Wanita Karir atau Full Time Mother

Assalamualaikum bunda-bunda cantik.. 😍

Apakah bunda seorang wanita karir?atau ibu rumah tangga? 
Bagiku setiap wanita berhak menentukan pilihannya sendiri dalam hidup. Setiap manusia pasti memiliki pilihan yang sulit dalam hidupnya. Aku pun sempat mengalami sebuah pilihan sulit, antara memilih menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga. Terkadang hidup menjadi lebih bermakna ketika kita dihadapkan oleh sebuah pilihan yang sulit.

Aku menikah dengan seorang laki-laki teman masa SMA. Saat itu kami bertemu di kelas 2 dan terus bersama sampai ke jenjang perguruan tinggi. Kami pun memutuskan menikah saat usiaku 25 tahun dan usianya 26 tahun.

Selama hampir sepuluh tahun kami menjalani hubungan dekat, berawal dari sebuah persahabatan sampai akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada tahun 2017. Aku bersyukur, hubungan ini bisa kami jalani bersama setelah melewati banyak hal dan rintangan sampai ke titik menikah. Meskipun awalnya kami selalu bertengkar dan beda pendapat.

Memilih dia sebagai suami juga merupakan pilihan yang baik. Aku bersyukur, meskipun kami selalu bertengkar, dia selalu mengalah dan mencari jalan keluar yang baik. Bersyukur karena aku menikah dengan laki-laki yang sabar meskipun terkadang dia sulit memahami keinginanku 😋

Setelah menikah kami memutuskan untuk hidup merantau di kota orang, tepatnya kota Malang. Karena masih sama-sama freshgraduated, kami masih memiliki ambisi dan saling mendukung dalam mengejar karir. Saat itu dia bekerja sebagai desainer disebuah studio animasi, dan akupun juga bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan penerbitan buku anak. Saat itu kami benar-benar bahagia, lulus kuliah, menikah, dan bekerja sesuai dengan passion masing-masing.

Saat itu hidupku menjadi benar-benar terasa lengkap saat mengetahui aku hamil.  Namun takdir berkata lain, kondisiku saat itu benar-benar buruk dan harus bedrest selama masa kehamilan. Bekerja oun menjadi sangat sulit. Bahkan dia juga sulit bekerja karena mengurus dan merawatku yang sedang sakit. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota kami, Situbondo. Dengan pulangnya kami ke Situbondo, aku berharap kondisiku membaik karena berkumpul bersama ibu dan keluarga dirumah. Saat itu kami juga dihadapkan oleh pilihan yang sulit, kami harus memilih untuk melepas karir kami di Malang.

Setelah memasuki bulan kedua, kondisiku membaik. Suamiku memutuskan untuk kembali ke Malang dan aku tetap di Situbondo. Jadi kami LDR an nih ceritanya 😊. Sayangnya, Allah terlalu sayang pada kami. Pada usia kehamilan empat bulan aku mengalami keguguran dan terpaksa suami pun kembali pulang ke Situbondo. Saat itu dia bertekad dan memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal bersamaku di sini. Kami harus ikhlas, dan tetap bahagia dengan kondisi apapun yang terjadi.

Saat itu di Situbondo kami tidak memiliki relasi, teman ataupun tujuan untuk bekerja. Karena insdustri kreatif hanya ada dikota-kota besar. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di sebuah sekolah. Perlahan aku dan suami mulai menemukan kesibukan masing-masing. Dia bekerja mendirikan sebuah kafe bersama teman-temannya, dan akupun mulai menikmati kegiatanku sebagai guru seni rupa di SMKN 1 Situbondo. Meskipun pendapatan kami tidak sebesar saat di Malang, kami bahagia dan selalu bersyukur. Tiga bulan berlalu aku kembali hamil. Kami sangat bahagia dan benar-benar menjaga kandunganku saat itu. Suamiku juga tetap mendukungku untuk tetap bekerja. Menjadi wanita karir adalah hal menyenangkan. Aku tipe wanita yang mudah bosan jika hanya melakukan aktivitas yang monoton. Memasak, mencuci baju, nonton tivi, hanya itu saja yang bisa kulakukan diwaktu senggang. Berbeda ketika aku berada di tempat kerja, bercanda dengan teman, penuh dengan aktivitas dan hal-hal menyenangkan. 

Tanpa terasa sembilan bulannpun terlewati dan aku pun melahirkan seorag malaikat tampan yang kami beri nama Muhammad Bilhaqqi Nazal. Sungguh, saat itu merupakan sebuah kebahagiaan terbesar. Menjadi ibu dan seorang ayah adalah hal baru bagi kami. Meskipun awalnya kami sempat bingung dengan keadaan baru ini, alhamdulillah semuanya berjalan baik. Beruntung juga karena kami tinggal bersama ibu, jadi lebih terbantu  mengurus bayi.

Sebagai orang tua, aku masih memiliki banyak sekali kekurangan pada saat itu.  Kami juga masih sama-sama belajar untuk menjadi orang tua, terutama aku yang pada saat itu juga harus bekerja. Kadang pagi diasuh oleh Ayahnya lalu digantikan oleh ibuku ketika pulang kerja. Ibuku juga kebetulan bekerja di pasar tradisional. Jadi mulai bisa menjaga anakku ketika pulang dari pasar. Statusku saat itu sebagai guru honorer dan bekerja hampir 12 jam. Hal itu kadang membuatku sedih karena tidak bisa mendampingi anakku setiap waktu. Akan tetapi, disatu sisi aku membutuhkan pekerjaan untuk membantu menopang perekonomian keluarga saat itu. Satu sisi, menjadi guru juga sudah menjadi passionku. Apalagi hidup dikampung, jika menjadi guru akan dihormati dan dibanggakan. Itulah salah satu alasanku bertahan, setidaknya ibuku bangga. 

Akan tetapi hal itu membuatku dilema, satu sisi aku ingin merawat dan menjaga anakku full time. Setelah mengalami banyak hal dan perundingan bersama suami dan keluarga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan resign mengajar, tentunya dengan menyelesaikan satu semester disekolah. Awalnya terasa berat, karena begitu banyak orang mengharapkan pekerjaan, aku malah melepaskannya begitu saja. Untung saja suami dan sahabat-sahabatku mendukungku dan memberi semangat. Satu hal yang ku percaya, “rejeki anak pasti ada, dan rejeki itu tidak akan pernah tertukar”.

Dalam menentukan sebuah pilihan menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, kita juga harus mempertimbangkan keputusan dan persetujuan suami ya bun. Alhamdulillah, suami mendukung dan mengijinkanku resign. Baginya merawat anak lebih penting. Kita tidak akan bisa mengulang masa-masa ketika mereka bayi. Bahkan mungkin kita akan merindukan suara tangisnya, merindukan menggantikan popoknya, setiap perkembangannya adalah hal yang spesial. Karena ketika bayi beranjak besar, mungkin dia hanya akan bermain dengan teman-temannya. Terkadang aku merasa cemburu, ketika anakku lebih nyaman bersama ibuku daripada bersamaku. Mungkin karena pada saat itu ibuku lebih sering bersamanya. Saat itu juga suami bertekad akan bekerja lebih giat. 



Memang benar, kebutuhan finansial lebih penting untuk membantu mewujudkan masa depan anak-anak kita kelak dalam mencapai cita-citanya. Namun bagiku yang terpenting untuk saat ini adalah bagaimana memberikan seluruh kasih sayang kita kepada mereka. Ingat, anak usia 0-5 tahun lebih membutuhkan bermain dengan orang tua mereka. 

Aku bersyukur dan merasa beruntung pilihan yang aku jalani mendapatkan dukungan bukan hanya dari suami tapi dari keluarga besarku, orangtuaku banyak membantuku dalam hal apapun, aku bersyukur mempunyai orangtua yang sangat menyayangiku. Meskipun terkadang banyak orang yang menyayangkan pekerjaanku. Aah.. sudahlah.. palingan juga bertahan satu bulanan diomongin. Setelah itu kembali lagi seperti biasa. Karena kebahagian itu hanya kita sendiri yang merasakaannya. Hidupku  adalah kebahagiaan terbesar yang aku dapatkan. Alhamdulillah aku selalu bersyukur atas apa yang sudah aku jalani hingga saat ini.

Hidupku saat ini adalah pilihanku, pilihan untuk menjadi full time mother.  Aku sangat bersyukur atas pilihan hidupkku saat ini, semoga apa yang sudah aku lalui bisa menjadi sesuatu yang bisa memperoleh kebaikan buat hidupku dan keluargaku, Aamiin.

Insyaallah keputusan yang sudah aku ambil mulai dari memilih suami sampai menjadi seorang full time mother tidak pernah aku sesali justru selalu aku syukuri. Tidak dipungkiri juga bahwa seorang ibu yang memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir juga ibu yang hebat. Setiap ibu pasti memiliki caranya masing-masing dalam menyayangi anaknya. Keep strong ya bunda…😎

karena dia adalah segalanya 😘

Bahagia untuk seluruh ibu di dunia.. 😍

No comments:

Post a Comment